"Matinya Sengkuni sangat nahas. Ia dikuliti dengan Kuku Pancanaka Bima berawal dari kulit duburnya, karena bagian dubur Sengkuni itulah yang tidak kebal sebab luput dari luluran Minyak Tala. Ibu Joko Pitono juga mati ngenes. Begitu juga ayah Joko Pitono, Prabu Destarastra, mati ketiban reruntuhan istana Astina dalam lakon Kresna Duta," katanya.
Sebelumnya, Tejo juga lebih dulu mengunggah foto berisi tulisan. Dalam foto tersebut Tejo menuliskan kegelisahannya terkait keputusan yang baru-baru ini diputus oleh Mahkamah Konstitusi (MK).
"Bila sesuatu yang amat tak patut diputuskan tetap saja dijadikan keputusan, dan keputusan tersebut menguntungkan salah satu pihak berpendukung sebagian tokoh-tokoh yang selama ini kita kenal sangat paham asas kepatutan, kritis dan galak," tulisnya.
Tejo lantas menuliskan dua kemungkinan yang sedang terjadi dari pengambilan keputusan tersebut.
"Tokoh-tokoh itu kini sudah berubah jadi gendeng tapi belum menghuni RSJ malah memimpin gerombolan politik. Atau tokoh-tokoh itu masih waras, tapi sebuah barter besar-besaran sedang berlangsung," katanya.
Kedua unggahannya ini pun menuai komentar beragam dari pengikut media sosialnya. Ada yang berkomentar dari pendukung capres, ada pula yang menanggapinya dengan membenarkan bahwa kisah pewayangan selalu mirip dengan kisah yang terjadi di dunia.
"Kisah pewayangan selalu menceritakan kehidupan yang relate dengan dunia kini dan akan datang. Slalu ada pelajaran yang dipetik," tulis akun @dendy.dnd.
Ada pula yang menyanggahnya.
"Sengkuni nopo mbah, mereka ngga pernah menderita seperti sengkuni yang harus memakan saudaranya senddiri untuk bisa hidup dan mempertahankan keturunannya, kasian sengkuni kalo disamakan dengan paman," ujar akun @emfaizalf.
Meskipun tak secara spesifik Tejo menuliskan siapa yang diibaratka sebagai sengkuni, netizen tampak langsung memahami bahwa unggahan Tejo merupakan sindiran.















