Kementan Perkuat Stabilitas Kedelai, Harga Tahu Tempe Dipastikan Tetap Aman

Kementan Perkuat Stabilitas Kedelai, Harga Tahu Tempe Dipastikan Tetap Aman

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Menurut Yudi, dinamika global memang memberikan tekanan terhadap biaya produksi dan distribusi, termasuk logistik dan transportasi. Namun, kondisi dalam negeri masih relatif stabil.

“Memang ada dampak dari perubahan geopolitik yang menyebabkan ongkos produksi dan distribusi meningkat. Tapi untuk kondisi saat ini pasokan masih cukup dan harga masih terkendali,” jelasnya.

Berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) yang diolah Badan Pangan Nasional per 8 April 2026, harga kedelai di berbagai wilayah masih berada dalam rentang wajar.

Di Jakarta, harga berkisar Rp10.500–Rp11.000 per kilogram, Jawa Rp10.555, Bali dan NTB Rp10.550, Sumatra Rp11.450, Sulawesi Rp11.113, serta Kalimantan Rp10.908 per kilogram.

Dari sisi pelaku usaha, Direktur PT FKS Multi Agro Tbk, Tjung Hen Sen, menyebut harga kedelai di tingkat importir berada pada kisaran Rp10.100 hingga Rp10.300 per kilogram, tergantung wilayah.

“Kami berupaya keras menjaga stabilitas harga di tengah tantangan eksternal seperti geopolitik, biaya logistik, hingga asuransi kapal,” katanya.

Ia menegaskan bahwa stabilitas harga merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan pelaku usaha.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nurcahyo, memastikan bahwa harga tahu dan tempe tetap stabil di tingkat pengrajin.

“Kami jamin tahu tempe tidak naik harganya, mungkin hanya ada penyesuaian volume. Harga tetap di kisaran Rp12.000 sampai Rp13.000,” ujarnya.

Ia menambahkan, harga kedelai sebagai bahan baku utama masih berada di bawah HAP, yakni sekitar Rp10.200 per kilogram. Tantangan utama saat ini justru berasal dari kenaikan harga bahan penunjang seperti plastik.