Indonesia Butuh Akal yang Saleh

Indonesia Butuh Akal yang Saleh

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Penulis: Ryan Saputra

(Mahasiswa Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta)

Indonesia hari ini berada dalam situasi yang sulit untuk disebut stabil. Isu politik yang tak kunjung reda, persoalan sosial yang semakin tajam, dan tekanan ekonomi yang dirasakan hingga lapisan paling bawah masyarakat menciptakan kegelisahan bersama.

Banyak orang merasa resah, marah, dan lelah, tetapi tidak selalu mampu merumuskan dengan jelas apa yang sebenarnya bermasalah.

Kita merasakan ada sesuatu yang keliru, tapi terkendala pada pemahaman yang utuh.

Salah satu tanda paling jelas dari kegelisahan ini adalah hilangnya batas. Kita hidup dalam situasi yang terlalu bebas, tetapi kebebasan itu tidak diiringi kesadaran tentang tanggung jawab.

Kebebasan berbicara berubah menjadi saling menyerang, kebebasan berkuasa menjelma menjadi keserakahan, dan kebebasan mengelola sumber daya sering berakhir sebagai eksploitasi.

Dalam kondisi seperti ini, keseimbangan yang berorientasi pada keadilan menjadi sesuatu yang sulit dicapai. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar bagaimana mengatur sistem, tetapi bagaimana manusia yang menjalankan sistem itu memahami batas.

Di titik inilah pembicaraan tentang akal menjadi penting. Kita sering menganggap akal sebagai sesuatu yang rumit, abstrak, dan jauh dari praktik kehidupan sehari-hari.

Padahal, akal adalah alat paling mendasar yang kita miliki untuk mengendalikan diri, membaca situasi, dan menimbang dampak dari setiap keputusan.