“Saya tidak mau keluarga saya menderita. Seorang ibu muda baru saja dioperasi di Manado, sebelum berangkat dia minta dukungan doa ke saya. Tapi satu hari setelah operasi dia meninggal.
“Siapa yang tidak takut? Bukan cuma satu atau dua orang yang sudah meninggal dengan penyakit benjolan. Mungkin dia punya penyakit lain, tapi saya tetap merasa takut kalau harus makan hasil laut Sangihe,” ujar Elbi.Keluarga pecah, kebun tak lagi tumbuh’
Di pulau kecil yang lain, yaitu Wawonii di Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara, penduduk juga menghadapi persoalan serupa. Bedanya, pertambangan di Wawonii mengincar nikel—komoditas yang tengah naik daun seiring ‘gerakan hijau’ industri otomotif memproduksi mobil listrik.
Di Wawonii, sumber air juga telah berubah keruh. Lebih dari itu, warga menyebut kebun yang selama ini menyediakan bahan pangan dan penghasilan tak lagi produktif setelah pertambangan berlangsung.
Yamir, warga Desa Dompo-Dompo Jaya, menyebut hasil panen jambu mete keluarganya tahun ini hanya mencapai 270 kilogram. Pada tahun-tahun sebelumnya, dia menyebut keluarganya bisa meraih lebih dari satu ton jambu mete. Pangkalnya, menurut Yamir, debu pertambangan menutup bunga pohon jambu mete. Akibatnya, tanaman itu gagal tumbuh secara wajar.
“Di laut situasinya pun sama. Sempat hujan deras pada Maret 2023, warna air bukan lagi kotor, tapi berlumpur,“ ujar Yamir.Endapan lumpur itu menutup karang, padahal karang itu tempat ikan berkembang biak, yang menjadi harapkan nelayan tradisional,“ ujarnya.
Namun yang paling membuat Yamir terpukul adalah hubungan kekerabatan yang retak akibat aktivitas tambang. Warga Wawonii terpecah: ada yang mendukung, ada juga yang menentang perusahaan.
“Dahulu sistem gotong-royong kami sangat kuat. Apapun pekerjaan, misalnya hajatan atau kegiatan lain yang berhubungan dengan orang banyak, tanpa diundang pun masyarakat akan datang dengan sendirinya. Semenjak perusahaan datang, kebiasaan itu berubah,“ kata Yamir.
“Saya sangat sedih. Ada sebuah keluarga yang bahkan sampai mengeluarkan anak kandung dari kartu keluarga. Itu nyata. Ada yang bercerai gara-gara persoalan ini,” ucapnya. (sumber: BBC)














